DARMAKRADENAN.COM- Sekitar 50 persen dari 108,544 hektar sawah di empat Wilayah Kadus Desa Darmakradenan mulai kekeringan, bahkah tanah sawah mengalami retak-retak.kekeringan terjadi akibat keringnya sejumlah sungai yang biasa digunakan petani untuk mengairi lahan persawahan.
Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Desa Darmakradenan Suyanto menuturkan, luas areal Persawahan di Desa Darmakradenan mencapai sekitar 108,544 hektare, di mana hampir 54 hektarenya sudah mengalami kekeringan. Beruntung bagi para petani yang lahan pertaniannya masih terairi karena dekat dengan Irigasi Cipecang I dan II,itupun masih kurang pasokan airnya.
“Sedangkan lahan pertanian yang jauh dari sumber air kebanyakan dibiarkan mengering. Bagi petani sawah yang memiliki lahan sedikit terpaksa harus membuat sumur yang dibuat di sawah. Tapi itu pun air yang keluar sangat terbatas, tidak cukup untuk mengairi pesawahan dalam skala yang lebih luas,” kata Yanto.
Petani asal Grumbul Kesal RT 01 RW 06 Desa Darmakradenan yang sudah lebih dari dua bulan berhenti total menggarap sawah, sambil menunggu datangnya musim hujan terpaksa harus mengganti tanaman padinya dengan jagung untuk menyambung hidup.
“Sudah dua bulan saya menganggur.Dari pada menganggur biarpun hasilnya tidak cukup banyak saya terpaksa menanam jagung, ngga tau hasilnya nanti seperti apa, padahal hasil padi lumayan dari pada jagung,” kata Rusmadi sambil mengusap keringatnya, Sabtu siang (14/9).
Sebagai daerah yang mayoritas petani dengan total areal persawahan sekitar 108,544 hektar, para petani di Desa Darmakradenan hanya bisa pasrah menghadapi kondisi ini, mereka berharap segera turun hujan agar bisa mengairi sawahnya.
Kekeringan yang dialami para petani ini terjadi pada setiap tahun, namun pada musim kemarau ini kemarau bergeser satu bulan lebih awal dari kemarau yang terjadi tahun lalu. Para petani berharap pemerintah bisa segera memberikan solusi untuk mengatasi kekeringan
yang terajadi di hampir setiap tahunnya.
darmakradenan.com