Idris Santoso, S.E., Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, saat menyampaikan materi sosialisasi kebijakan melalui media tradisional di Aula Balai Desa Darmakradenan, Ajibarang, Banyumas, Kamis (9/5/2026).

Sosialisasi Kebijakan Media Tradisional, Idris Santoso: Seni Bukan Sekadar Warisan, tetapi Identitas

DARMAKRADENAN.COM- Anggota Komisi A DPRD Provinsi Jawa Tengah, Idris Santoso, S.E. mengajak masyarakat untuk mempertahankan budaya lokal di tengah derasnya arus digitalisasi. Hal itu disampaikan dalam kegiatan sosialisasi kebijakan melalui media tradisional yang digelar di Aula Balai Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Kamis (9/5/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Idris menegaskan bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam menjaga identitas masyarakat, khususnya budaya Banyumasan atau masyarakat “ngapak”.

“Seni itu bukan sekadar warisan, tetapi identitas. Kita orang ngapak mudah dipahami, khususnya di Banyumas,” ujarnya.

Ia mengatakan, seni dapat terus dikembangkan mengikuti perkembangan zaman, namun budaya harus tetap dipertahankan agar tidak luntur oleh pengaruh luar. “Seni bisa dikembangkan, tetapi budaya harus dipertahankan,” katanya.

Menurut Idris, perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola komunikasi masyarakat secara drastis. Jika dahulu masyarakat memperoleh informasi melalui cara-cara tradisional yang membutuhkan waktu cukup lama, kini informasi dapat diterima dalam hitungan detik melalui media sosial dan digitalisasi.

“Orang dulu menyampaikan informasi dengan cara tradisional. Menunggu informasi bisa dua sampai tiga bulan. Kalau sekarang setiap menit, setiap detik, informasi datang melalui media sosial dengan digitalisasi,” jelasnya.

Ia menilai perkembangan tersebut membawa dampak besar terhadap budaya lokal. Bahkan secara tidak langsung, budaya masyarakat saat ini menghadapi tantangan akibat derasnya pengaruh budaya luar.

“Secara tidak langsung budaya kita sedang dijajah. Jangan sampai budaya kita luntur,” tegasnya.

Idris juga menyoroti mulai hilangnya nilai-nilai tata krama atau unggah-ungguh dalam kehidupan masyarakat modern. Menurutnya, kebiasaan orang dahulu dalam bersikap, menghormati sesama, hingga cara menyajikan makanan perlahan mulai ditinggalkan.

“Cara orang dulu itu ada unggah-ungguh, termasuk cara menyajikan makanan. Sekarang sudah mulai hilang,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan pentingnya memisahkan antara agama dan budaya agar masyarakat dapat memahami keduanya secara proporsional. “Antara agama dan budaya harus dipisahkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, saat ini seni budaya sering kali hanya menjadi tontonan semata tanpa adanya penghayatan terhadap makna budaya tersebut. “Seni budaya sekarang hanya menjadi tontonan. Orang tidak lagi menghayati budaya itu sendiri,” pungkasnya.

Check Also

Jamiyah NU Ranting Darmakradenan Bentuk Panitia Santunan Anak Yatim Sambut Tahun Baru Islam

DARMAKRADENAN.COM- Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Desa Darmakradenan, menggelar rapat pembentukan panitia santunan anak yatim …

Pemdes Pasang Infografis APBDes di Titik Strategis, Wujudkan Transparansi Anggaran Desa

DARMAKRADENAN.COM- Pemerintah Desa Darmakradenan, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, memasang papan pengumuman desa berupa infografis Anggaran …

GP Ansor Ajibarang Dorong Sportivitas Lewat Turnamen Bola Voli Antar Ranting

AJIBARANG (darmakradenan.com)- Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Ajibarang sukses menggelar turnamen bola voli …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *